Anak yang Belajar Menyimpan Luka Sendirian

Bilangan Research
Bilangan Research 1 April 2026, 00:00
1 Apr 2026 56 views

Potret Nasional Generasi Muda Kristen: Keluarga dan Sekolah

Banyak orang dewasa sering bingung melihat anak remaja yang terasa makin tertutup. Di rumah mereka lebih banyak diam. Di sekolah mereka hadir, tetapi tidak selalu terbuka. Lalu ketika mereka mulai menjauh, kita mudah menyimpulkan bahwa masalahnya ada pada gawai, pergaulan, atau sikap generasi sekarang. Tetapi ketika data BRC dibaca lebih teliti, terlihat persoalan yang lebih dalam: banyak anak muda sedang memikul beban batin yang besar, dan mereka tidak selalu punya tempat yang aman untuk membicarakannya.

Dalam salah satu temuan BRC pada 2021, sekitar 1 dari 3 anak muda Kristen merasa sangat kesepian dan merasa tidak ada yang sungguh-sungguh mengasihi mereka. Sekitar 45% sering dihantui perasaan bahwa diri mereka tidak berguna. Ini bukan sekadar suasana hati yang lewat sesaat. Ketika rasa sepi dan tidak berharga menumpuk tanpa ruang aman untuk diproses, dampaknya bisa sangat serius. Dan ini bukan temuan yang berdiri sendiri. Dalam temuan BRC pada 2017, sekitar 14% anak muda pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya, dan hampir 10% pernah mencoba lari dari rumah. ¹²

Rumah Tidak Selalu Menjadi Tempat yang Aman

Secara ideal, rumah adalah tempat pertama di mana anak bisa jujur tentang perasaannya. Tetapi data menunjukkan bahwa itu tidak selalu terjadi. Dalam temuan BRC pada 2017, sebanyak 1 dari 5 anak muda merasa tidak punya kebebasan untuk berbicara jujur tentang perasaan mereka di rumah. Bahkan 1 dari 7 merasa tidak punya satu pun orang yang bisa diajak bercerita saat mereka sedang hancur. Ini berarti, bagi cukup banyak anak, rumah belum sungguh menjadi tempat yang memberi rasa aman untuk terbuka. ²

Salah satu sebabnya ada pada kelelahan yang juga sedang dipikul orang tua. Banyak keluarga terlihat biasa saja dari luar, tetapi di dalamnya menyimpan konflik yang tidak kecil. Dalam survei BRC tentang dinamika keluarga pada 2022, 24% istri dan 18% suami pernah memiliki keinginan serius untuk bercerai. Selain itu, ada bentuk kekerasan yang tidak selalu tampak dari luar: 39,2% istri mengalami kekerasan keuangan, dan sekitar 32% pasangan sering melakukan kekerasan perasaan seperti menyindir tajam atau mendiamkan berhari-hari. Ketika orang tua sendiri sedang hidup dalam tekanan seperti itu, rumah mudah berubah menjadi tempat yang tegang, walau tidak selalu terlihat dari luar. ³

Anak Menangkap Tekanan yang Tidak Selalu Diucapkan

Ketika orang tua kelelahan, anak biasanya bisa merasakannya jauh sebelum orang tua mengatakannya. Mereka membaca nada bicara, cara orang tua bereaksi, dan seberapa aman rumah itu untuk kesalahan atau kegagalan. Dalam situasi seperti ini, banyak anak lalu belajar satu hal: jangan menambah beban. Jangan terlalu jujur. Jangan merepotkan. Aman kalau nilai bagus, kalau tidak melawan, dan kalau tidak membuat masalah. Dari luar mereka bisa terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam mereka sedang belajar memendam banyak hal sendirian.

Dalam survei keluarga BRC pada 2022, 20,8% orang tua juga mengaku pernah memukul atau mencubit anak mereka. Dalam banyak kasus, tindakan ini bukan semata soal disiplin, tetapi juga berkaitan dengan amarah dan kelelahan yang tidak tertangani. Ketika anak bertumbuh dalam rumah yang penuh tuntutan dan ledakan emosi, mereka tidak hanya belajar takut pada hukuman. Mereka juga belajar menyembunyikan pergumulan. Karena itu, rasa sepi pada anak muda tidak bisa dibaca hanya sebagai masalah pribadi. Sering kali itu tumbuh dari suasana relasi yang tidak cukup aman di rumah. ³

Sekolah Hadir, tetapi Tidak Selalu Sempat Mendampingi

Ketika rumah tidak cukup memberi ruang aman, anak biasanya berharap menemukan tempat lain yang lebih hangat. Salah satu tempat yang diharapkan bisa menjalankan peran itu adalah sekolah. Tetapi di banyak kasus, sekolah juga sedang berjalan dalam tekanan. Dalam survei BRC tentang kesejahteraan dan tantangan guru pada 2024, hampir separuh guru, yaitu 49,3%, mengatakan gaji mereka tidak cukup untuk kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Sebanyak 45,4% harus mencari pekerjaan sampingan, dan 73,1% mengalami kelelahan batin yang berat. Dalam keadaan seperti ini, sekolah bisa tetap berjalan, tetapi tidak selalu punya cukup ruang untuk mendampingi murid secara personal. ⁴

Itu terlihat juga dalam pengalaman anak muda sendiri. Dalam temuan BRC pada 2017, hanya 13,5% yang merasa mendapat bimbingan pribadi dari guru. Dari sisi pembinaan rohani, 53% anak merasa bimbingan di sekolah biasa-biasa saja. Ini berarti sekolah masih lebih kuat di sisi rutinitas dan program daripada di sisi pendampingan yang dekat. Anak bisa hadir setiap hari, mengikuti pelajaran, dan menjalani ibadah rutin, tetapi tetap merasa bahwa tidak ada orang dewasa yang sungguh mengenal pergumulannya. Di titik ini, anak berada di dua ruang yang sama-sama terbatas: di rumah mereka tidak selalu aman untuk jujur, di sekolah mereka tidak selalu menemukan orang yang punya waktu dan tenaga untuk mendampingi. Maka tidak heran jika banyak dari mereka akhirnya memproses tekanan hidupnya sendirian. ²

Yang sedang kita lihat bukan hanya anak yang makin tertutup, tetapi lingkungan yang makin sulit menjadi tempat aman bagi mereka. Rumah tidak selalu memberi ruang untuk jujur. Sekolah tidak selalu punya cukup tenaga untuk mendampingi. Di antara dua ruang yang sama-sama terbatas itu, banyak anak muda belajar bertahan dengan cara diam, menutup diri, dan menyimpan luka sendirian. Karena itu, realita ini tidak cukup dibaca hanya sebagai masalah pribadi beberapa anak, tetapi sebagai bagian dari kondisi yang lebih luas dalam kehidupan generasi muda Kristen hari ini.

Catatan data

¹ Survei Spiritualitas Umat Kristen Indonesia 2021 — survei kuantitatif terhadap 1.137 responden umat Kristen di wilayah perkotaan Indonesia; untuk pembacaan generasi muda digunakan 297 responden berusia 15–24 tahun dari 27 provinsi.

² Survei Generasi Muda Kristen Indonesia 2017 — survei kuantitatif terhadap 4.095 responden usia 15–25 tahun di 42 kota dan kabupaten.

³ Survei Dinamika Konflik dan KDRT pada Keluarga Kristen 2022 — dilakukan oleh Bilangan Research Center bersama Family First Indonesia, melibatkan 500 responden umat Kristen yang sudah menikah dari 27 provinsi.

Survei Kesejahteraan dan Tantangan Guru Kristen 2024 — dilakukan oleh Bilangan Research Center bersama Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia, melibatkan 1.000 guru Kristen dan Katolik dari berbagai jenjang dan wilayah di Indonesia melalui survei kuantitatif pada Juli 2024.

Bagikan artikel ini