Pertumbuhan yang Hanya Berpindah Alamat

Bilangan Research
Bilangan Research 1 April 2026, 00:00
1 Apr 2026 54 views

Potret Nasional Pertumbuhan Gereja di Indonesia

Kita sering memakai ukuran yang sederhana untuk menilai apakah sebuah gereja sedang bertumbuh. Kalau ibadah makin ramai, kursi makin penuh, dan kegiatan makin banyak, kita cenderung menganggap gereja itu sehat. Tetapi ketika data BRC dibaca lebih teliti, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: pertumbuhan seperti apa yang sebenarnya sedang terjadi? Di banyak tempat, keramaian gereja ternyata tidak selalu berarti ada kehidupan baru yang sedang tumbuh. Sering kali yang bertambah hanyalah jumlah orang yang datang, bukan kedalaman akar ataupun perluasan jangkauan gereja.

Jemaat Bertambah, tetapi Tidak Selalu karena Gereja Menjangkau

Ketika para pemimpin gereja ditanya tentang penyebab utama pertumbuhan jemaat dewasa, jawaban yang paling banyak muncul adalah perpindahan jemaat dari gereja lain. Angkanya mencapai 45,7%. Sebaliknya, pertumbuhan karena ada orang baru yang menjadi Kristen hanya 6,7%, dan pertumbuhan yang murni berasal dari penginjilan hanya 1,7%. Ini berarti, di banyak kasus, pertumbuhan gereja lebih banyak terjadi karena perpindahan anggota, bukan karena gereja sungguh menjangkau orang baru atau melahirkan murid baru. ¹

Di titik ini, terlihat perbedaan antara gereja yang ramai dan gereja yang sungguh bertumbuh. Sebuah gereja bisa saja naik secara jumlah, tetapi secara lebih luas tidak ada pertambahan berarti dalam tubuh Kristus. Yang terjadi hanya perpindahan dari satu gereja ke gereja lain. Kalau ini terus menjadi pola utama, gereja bisa tampak berkembang, padahal yang bergerak terutama hanyalah arus perpindahan jemaat.

Yang Datang Disambut, yang Pergi Tidak Selalu Dijaga

Masalahnya bukan hanya soal bagaimana jemaat datang, tetapi juga bagaimana jemaat bertahan. Ketika angka kehadiran menurun, kita sering langsung mengaitkannya dengan kemerosotan iman atau pengaruh zaman. Namun data menunjukkan alasan yang lebih sederhana dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sekitar 36% responden gereja yang jumlah umatnya menurun atau tidak bertumbuh mengidentifikasi migrasi dan urbanisasi sebagai penyebab utamanya. Di saat yang sama, perpindahan ke gereja lain juga sangat besar: 40% pada gereja kota dan 32,5% pada gereja desa. Artinya, banyak jemaat tidak benar-benar meninggalkan iman, tetapi mereka juga tidak cukup terhubung untuk tetap bertahan dalam komunitas gereja yang lama. ¹

Ini memberi gambaran penting tentang tipisnya ikatan yang dimiliki sebagian jemaat. Mereka sering pergi bukan karena bermusuhan dengan gereja, tetapi karena tidak punya relasi yang cukup kuat untuk membuat mereka tetap tinggal. Ketika pindah rumah, pindah kerja, atau masuk fase hidup yang baru, keterhubungan itu mudah terlepas. Di titik ini, gereja bisa terus menambah kegiatan untuk menyambut orang datang, tetapi belum tentu punya daya ikat yang cukup untuk menjaga mereka tetap bertumbuh di dalamnya.

Pemuridan Ada, tetapi Tidak Selalu Menjadi Kehidupan

Pemuridan memang bukan hal asing dalam percakapan gereja. Tetapi yang lebih penting bukan sekadar apakah pemuridan disebut atau diakui penting, melainkan seberapa jauh jemaat sungguh masuk ke dalamnya. Data BRC menunjukkan bahwa pertumbuhan gereja berkaitan erat dengan tingkat keterlibatan jemaat dalam pemuridan. Ketika keterlibatan itu melewati 10% dari total anggota dewasa, persentase gereja yang bertumbuh naik menjadi 67,5%. ¹

Itu berarti pemuridan bukan sekadar pelengkap, tetapi berkaitan erat dengan apakah gereja sungguh bertumbuh atau tidak. Masalahnya, di banyak gereja, keterlibatan sedalam ini tidak pernah tercapai. Yang aktif biasanya orang-orang yang sama, sementara sebagian besar jemaat tetap hadir tanpa sungguh masuk ke dalam relasi pembinaan yang dekat dan berkelanjutan. Kalau pemuridan hanya berhenti sebagai kelas, kelompok kecil formal, atau program tambahan, jemaat baru akan sulit merasa bahwa mereka sedang masuk ke sebuah keluarga rohani. Mereka bisa hadir, tetapi tidak sungguh terhubung. Mereka bisa tercatat, tetapi tidak sungguh dibentuk. Di situlah gereja mulai terlihat aktif, tetapi kehilangan daya bentuknya. ¹

Gereja Menumpuk ke Dalam, tetapi Sulit Diutus ke Luar

Ketika pemuridan tidak sungguh membentuk orang, gereja juga akan kesulitan melahirkan pemimpin baru dan membuka ruang ke luar. Ini terlihat dari keberanian gereja dalam merintis jemaat baru. Hanya 34,5% gereja yang menanam minimal dua jemaat baru dalam sepuluh tahun terakhir. Banyak gereja menahan diri karena merasa merintis cabang baru terlalu mahal, terlalu berisiko, atau bisa menguras tenaga pelayan yang sudah terbatas. Akhirnya, energi gereja lebih banyak dihabiskan untuk memperkuat apa yang ada di dalam, bukan untuk membuka yang baru di luar. ¹

Padahal data menunjukkan arah yang berbeda. Gereja yang berani merintis jemaat baru justru mencatat pertumbuhan yang lebih sehat, yaitu 65,8%. Ini menunjukkan bahwa ketika gereja berani mengutus, gereja justru tidak kehilangan hidupnya. Sebaliknya, ketika semua tenaga, dana, dan perhatian ditahan ke dalam demi rasa aman, gereja pelan-pelan bisa menjadi penuh aktivitas tetapi makin sempit arah pelayanannya. ¹

Tidak setiap pertambahan angka menunjukkan pertumbuhan gereja yang lebih sehat. Di banyak tempat, pertambahan jemaat lebih banyak datang dari perpindahan, bukan dari jangkauan baru. Jemaat bisa hadir, tetapi tidak cukup terikat untuk bertahan. Pemuridan bisa ada, tetapi tidak sungguh menjadi kehidupan. Gereja bisa sibuk menguatkan apa yang ada di dalam, tetapi tetap sulit melangkah keluar. Karena itu, realita ini tidak cukup dibaca hanya dari keramaian ibadah atau bertambahnya jumlah orang, tetapi sebagai bagian dari kondisi yang lebih luas dalam pertumbuhan gereja hari ini.

Catatan data

¹ Survei Dinamika Pertumbuhan Gereja di Indonesia (2017) — riset nasional yang melibatkan 4.394 responden yang memiliki tanggung jawab pelayanan sebagai gembala jemaat atau pendeta lokal. Survei berpendekatan kuantitatif ini menjangkau 33 provinsi di Indonesia, meliputi lanskap pelayanan di pedesaan dan perkotaan.

Bagikan artikel ini