Keluarga yang Terlihat Baik-Baik Saja, tetapi Retak di Dalam

Bilangan Research
Bilangan Research 1 April 2026, 00:00
1 Apr 2026 39 views

Potret Nasional Keluarga Kristen

Banyak keluarga Kristen terlihat baik-baik saja dari luar. Mereka tetap datang ke gereja, tetap hadir sebagai keluarga, dan tetap menjalankan rutinitas seperti biasa. Karena itu, mudah untuk berasumsi bahwa keadaan di rumah juga baik-baik saja. Tetapi data BRC menunjukkan bahwa gambarnya tidak sesederhana itu. Di balik keluarga yang masih berjalan seperti biasa, sering ada kelelahan, konflik, dan luka yang tidak banyak dibicarakan.

Salah satu tandanya terlihat dari relasi suami istri. Dalam temuan BRC pada 2022, 24% istri dan 18% suami mengaku pernah memiliki keinginan serius untuk bercerai dalam tiga tahun terakhir. Angka ini menunjukkan bahwa cukup banyak keluarga sedang hidup dalam ketegangan yang tidak kecil. Dari luar, rumah tangga bisa tetap terlihat utuh. Tetapi di dalam, banyak pasangan sedang menahan frustrasi yang terus menumpuk karena persoalan tidak sungguh diselesaikan. ¹

Retak di Rumah Tidak Selalu Berbentuk Kekerasan Fisik

Ketika orang mendengar kata kekerasan dalam keluarga, yang sering terbayang adalah luka fisik. Padahal dalam banyak kasus, yang lebih sering terjadi justru bentuk-bentuk yang tidak langsung terlihat. Dalam temuan BRC pada 2022, 39,2% istri mengalami kekerasan keuangan. Ini bisa terjadi ketika satu pihak memonopoli keputusan keuangan, menyembunyikan aset, atau memakai uang sebagai alat kontrol dalam relasi. Di sisi lain, kekerasan perasaan juga terjadi pada banyak keluarga: 32,4% istri dan 31,6% suami mengalaminya. Bentuknya bisa berupa ucapan yang merendahkan, sindiran yang terus berulang, atau kebiasaan mendiamkan pasangan saat marah. ¹

Ini penting untuk disadari karena banyak keluarga tetap berjalan tanpa menyebut kondisi itu sebagai kekerasan. Mereka masih tinggal serumah, masih menjalani peran masing-masing, tetapi rasa aman dalam relasi pelan-pelan terkikis. Rumah tangga tidak selalu hancur dalam satu peristiwa besar. Sering kali ia melemah lewat kebiasaan kecil yang terus dibiarkan: cara bicara yang merendahkan, kontrol yang berlebihan, dan konflik yang tidak pernah benar-benar selesai. Retaknya tidak selalu terlihat jelas dari luar, tetapi suasananya dapat berubah perlahan di dalam rumah.

Anak Sering Menanggung Dampaknya

Masalah antara suami dan istri jarang berhenti di antara mereka berdua. Suasana rumah akan dirasakan juga oleh anak. Ketika orang tua hidup dalam ketegangan, kesabaran terhadap anak biasanya ikut menipis. Dalam temuan BRC pada 2022, 20,8% orang tua mengaku pernah memukul atau mencubit anak mereka. Dalam banyak kasus, tindakan ini bukan semata soal mendidik, tetapi juga berkaitan dengan amarah dan kelelahan yang tidak tertangani. Bahkan, orang tua yang jarang mempraktikkan iman di rumah punya kecenderungan lebih tinggi, yaitu 36,2%, untuk melampiaskan amarah kepada anak. ¹

Dampaknya terlihat jelas pada anak muda. Dalam temuan BRC pada 2017, sebanyak 1 dari 5 merasa tidak bebas bicara jujur di rumahnya sendiri. Lalu, dalam temuan BRC pada 2021, 43,8% sering merasa dirinya tidak berguna, dan 68,4% merasa sulit menerima kelemahan dirinya. Pada tingkat yang lebih berat, dalam temuan BRC pada 2017, 14,2% remaja mengaku pernah terpikir untuk mengakhiri hidup. Ini menunjukkan bahwa persoalan keluarga tidak berhenti pada relasi pasangan. Ia ikut membentuk dunia batin anak. Ketika rumah tidak memberi rasa aman, anak belajar menahan perasaan, menyimpan masalah, dan memikul beban yang tidak seharusnya mereka tanggung sendiri. ²³

Ada satu temuan yang menarik sekaligus penting. Ketika orang tua sungguh-sungguh menghidupi iman mereka, dan ketika percakapan rohani di rumah lebih sering terjadi, spiritualitas anak cenderung lebih kuat. Dalam data BRC 2017, pada anak-anak yang ayah dan ibunya sama-sama sungguh mengikut Kristus, persentase yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan dan merasakan persekutuan akrab dengan Tuhan naik sekitar 16–18 poin dibanding mereka yang ayah dan ibunya tidak sungguh mengikut Kristus. Pola yang sama juga terlihat ketika diskusi hal rohani lebih sering terjadi di rumah. Artinya, yang dibutuhkan anak bukan hanya orang tua yang hadir secara formal, tetapi orang tua yang sungguh menghidupi iman dan membicarakannya dalam kehidupan sehari-hari. ²

Gereja Menjadi Tempat yang Diharapkan, tetapi Belum Selalu Siap

Ketika situasi keluarga terasa berat, gereja biasanya menjadi salah satu tempat pertama yang terpikir untuk dimintai tolong. Tetapi di sinilah masalah lain muncul. Dalam temuan BRC pada 2022, 68,3% jemaat enggan mencari bantuan ke gereja karena merasa gereja tidak punya kemampuan yang cukup untuk menangani konflik keluarga yang rumit. Lalu 26,8% takut campur tangan gereja justru akan membuat keadaan memburuk. Kekhawatiran ini tidak muncul tanpa alasan. Banyak jemaat takut masalah serius justru dijawab terlalu sederhana: diminta lebih sabar, lebih banyak berdoa, atau kembali bertahan tanpa ada perlindungan yang jelas. ¹

Data lain juga memperlihatkan bahwa hanya 45,6% gereja yang memiliki layanan atau panduan khusus untuk menangani kekerasan dalam keluarga. Artinya, cukup banyak gereja memang belum siap secara sistem, bukan hanya secara niat. Sementara itu, keluarga yang datang membawa konflik berat, kekerasan, atau tekanan mental biasanya membutuhkan respons yang jelas, aman, dan terarah. Di titik ini, sekadar nasihat rohani tidak lagi cukup. ¹

Yang terlihat utuh dari luar, tidak selalu sungguh utuh di dalam. Dalam banyak keluarga Kristen, ketegangan, luka, dan kelelahan dapat berjalan diam-diam tanpa cepat dikenali, tetapi dampaknya menjalar ke relasi suami istri, ke kehidupan anak, dan ke cara jemaat memandang gereja sebagai tempat mencari pertolongan. Karena itu, realita ini tidak cukup dibaca sebagai persoalan pribadi beberapa keluarga saja, melainkan sebagai bagian dari kondisi yang lebih luas di tengah kehidupan keluarga Kristen hari ini.

Catatan data

¹ Survei Dinamika Konflik dan KDRT pada Keluarga Kristen (2022) — dilakukan oleh Bilangan Research Center bersama Family First Indonesia, melibatkan 500 responden umat Kristen yang sudah menikah dari 27 provinsi.

² Survei Generasi Muda Kristen Indonesia (2017) — riset kuantitatif terhadap 4.095 responden usia 15–25 tahun di 42 kota dan kabupaten.

³ Survei Spiritualitas Umat Kristen Indonesia 2021 (2021) — riset kuantitatif terhadap 1.137 responden umat Kristen di wilayah perkotaan Indonesia; untuk pembacaan generasi muda digunakan 297 responden berusia 15–24 tahun dari 27 provinsi.

Bagikan artikel ini