Pemuridan yang Belum Menjadi Gerak Bersama

Bilangan Research
Bilangan Research 1 April 2026, 00:00
1 Apr 2026 52 views

Potret Nasional Pemuridan

Kita sering menganggap Amanat Agung sebagai sesuatu yang otomatis hidup di dalam gereja. Karena perintah ini begitu mendasar, kita mudah berasumsi bahwa jemaat pasti memahaminya dan gereja pasti sedang menjalaninya. Namun ketika datanya diperhatikan lebih dekat, gambarnya tidak sesederhana itu. Secara umum, 46,5% responden merasa sangat paham tentang Amanat Agung. Tetapi ketika dibedakan menurut peran di gereja, jaraknya cukup lebar: di kalangan pendeta atau gembala, 83,3% merasa sangat paham, sedangkan di kalangan jemaat angkanya turun menjadi 40,4%. Ini menunjukkan bahwa bahasa misi memang ada di gereja, tetapi belum selalu turun menjadi pemahaman yang sama kuatnya di kalangan jemaat biasa. ¹

Bahasa Amanat Agung Belum Turun Merata

Jarak ini penting, karena gereja tidak bergerak hanya dengan visi yang dipahami pemimpinnya. Gereja bergerak ketika arah itu juga cukup jelas bagi orang-orang biasa. Kalau pemahaman tentang Amanat Agung jauh lebih kuat di kalangan yang memimpin daripada di kalangan jemaat, maka gereja bisa memiliki visi yang benar, tetapi belum sungguh menjadi arah yang dipegang bersama.

Hal itu juga terlihat dari cara orang memahami kata “memuridkan.” Bagi 39,2% responden, memuridkan terutama berarti memberitakan Injil. Bagi 32,8%, memuridkan berarti memimpin orang lain bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus. Lalu 12,2% memaknainya sebagai memimpin kelompok kecil atau kelompok sel, dan 9,6% mengartikannya sebagai bersaksi kepada orang yang beragama lain. Jadi persoalannya bukan bahwa gereja menolak pemuridan. Yang terlihat justru sebaliknya: maknanya cukup luas, tetapi belum selalu sama jelasnya, dan belum selalu terasa sederhana untuk dijalani dalam kehidupan sehari-hari. ¹

Amanat Agung Belum Menjadi Irama Bersama

Salah satu sebabnya tampak dari seberapa sering Amanat Agung benar-benar terdengar dari mimbar. Hanya 39,3% responden yang mengatakan bahwa mereka mendengar Amanat Agung disampaikan dalam satu bulan terakhir. Sebaliknya, 26,0% mengatakan mereka tidak tahu atau tidak ingat kapan terakhir kali hal itu disampaikan. Ketika dibedakan menurut peran, jaraknya kembali terlihat: 57,9% pendeta merasa Amanat Agung sudah disampaikan dalam satu bulan terakhir, tetapi dari sisi jemaat hanya 37,1% yang merasa mendengarnya, dan 29,7% bahkan tidak tahu atau tidak ingat kapan terakhir kali topik itu muncul. ¹

Gambaran ini menunjukkan bahwa Amanat Agung belum selalu hadir sebagai irama yang terus diingat bersama. Ia masih lebih sering muncul sebagai tema sesekali, bukan sebagai arus yang cukup teratur untuk membentuk ingatan dan arah jemaat. Ketika sebuah panggilan hanya terdengar sesekali, orang tidak harus menolaknya untuk mulai menaruhnya di pinggir. Hal-hal lain yang terasa lebih dekat dengan hidup sehari-hari akan lebih mudah mengambil tempat.

Banyak yang Tidak Menolak, tetapi Tidak Merasa Mampu

Di sini gereja sering terlalu cepat menyimpulkan bahwa jemaat tidak bergerak karena kurang iman atau kurang komitmen. Padahal hambatannya sering lebih sederhana dan lebih manusiawi dari itu. Tiga alasan terbesar mengapa orang Kristen tidak memuridkan adalah karena merasa belum mampu (37,4%), menganggap memuridkan hanya tugas pendeta atau pengerja (22,6%), dan merasa belum layak menjadi pemurid (15,2%). Jadi hambatan utamanya bukan pertama-tama penolakan terhadap misi, melainkan rasa tidak bisa dan rasa tidak pantas. ¹

Akibatnya, pemuridan mudah dibayangkan sebagai pekerjaan rohani yang tinggi, yang hanya cocok bagi orang-orang yang sudah matang, sudah tahu banyak, atau sudah punya posisi tertentu. Jemaat biasa lalu merasa lebih aman menjadi penerima daripada pelaku. Bukan karena mereka memusuhi pemuridan, tetapi karena mereka belum merasa bahwa itu adalah ruang yang bisa mereka masuki secara wajar.

Standar yang Menjaga, tetapi Juga Bisa Menahan

Rasa belum mampu dan belum layak ini juga diperkuat oleh standar informal yang hidup di gereja. Saat ditanya siapa yang belum atau tidak boleh memuridkan, jawaban terbanyak adalah mereka yang kehidupan sehari-harinya tidak menjadi kesaksian (55,5%), mereka yang belum lahir baru (52,1%), dan mereka yang masih hidup dalam dosa (51,8%). Naluri di balik jawaban ini bisa dimengerti. Gereja tentu ingin menjaga integritas dan tidak ingin pemuridan dijalankan dengan sembarangan. ¹

Tetapi pada saat yang sama, standar yang terasa terlalu tinggi bisa membuat banyak orang tidak pernah benar-benar mulai. Pemuridan lalu diposisikan seolah-olah hanya boleh dijalankan oleh mereka yang sudah rapi. Padahal dalam kenyataannya, banyak orang justru dibentuk sambil berjalan, bukan sesudah semuanya sempurna. Kalau pagar ini terasa terlalu kaku, ia memang menjaga, tetapi juga dapat membuat banyak orang tetap berdiri di luar.

Pemuridan Menghidupkan, tetapi Tersandung Ritme Hidup

Padahal ketika orang sungguh memuridkan, dampaknya terasa jelas. Sebanyak 79,7% mengatakan bahwa memuridkan orang lain sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan rohani pribadi mereka. Jadi pemuridan bukan hanya memberi manfaat bagi orang yang dibimbing. Ia juga menghidupkan orang yang membimbing. ¹

Namun pemuridan juga berbenturan dengan hidup sehari-hari. Tantangan terbesarnya bukan terutama penolakan terhadap gagasan itu, melainkan ritme hidup yang sulit diatur: susah mencari waktu untuk bertemu (28,4%), dan orang yang dimuridkan kurang termotivasi (23,2%). Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya apakah gereja mendorong pemuridan atau tidak, tetapi juga apakah bentuknya cukup realistis untuk dijalani di tengah jadwal kerja, keluarga, dan beban hidup sehari-hari. ¹

Banyak Bergerak di Lingkaran yang Sudah Ada

Ada satu sisi lain yang juga penting diperhatikan: kepada siapa pemuridan paling banyak terjadi. Sebanyak 45,6% responden menyebut anggota jemaat di gereja yang sama, 27,1% menyebut orang Kristen dari gereja lain, dan 23,0% menyebut anak-anak sendiri. Ini tidak otomatis buruk. Pemuridan memang sering mulai dari orang yang dekat. Namun gambaran ini juga menunjukkan bahwa banyak energi pemuridan masih berputar di lingkaran yang sudah ada: di dalam gereja sendiri, di antara sesama orang Kristen, atau di dalam keluarga. ¹

Artinya, gereja cukup aktif merawat yang sudah dekat, tetapi belum tentu sedang membangun gerak yang lebih meluas. Pemuridan terjadi, tetapi arahnya sering lebih berupa perawatan di dalam lingkaran yang ada daripada gerak yang makin turun ke bawah dan meluas ke luar.

Budaya Pemuridan Belum Merata, tetapi Geraknya Ada

Gerak pemuridan itu bukan sesuatu yang sama sekali tidak terjadi. Sebanyak 51,7% responden mengatakan bahwa mereka telah atau sedang memuridkan dalam 12 bulan terakhir. Namun itu juga berarti hampir separuh lainnya belum terlibat di sana. Jadi persoalannya bukan bahwa gereja sama sekali tidak memuridkan, melainkan bahwa pemuridan belum cukup merata untuk menjadi gerak bersama. Ia sudah ada, bahkan menghidupkan banyak orang, tetapi belum sungguh menjadi budaya yang secara luas dihidupi oleh seluruh jemaat. ¹

Amanat Agung masih terdengar di gereja, tetapi belum selalu turun menjadi langkah yang cukup jelas, cukup sederhana, dan cukup mungkin dijalani bersama. Pemuridan tidak hilang. Ia tetap ada, bahkan menghidupkan banyak orang. Tetapi di banyak tempat, geraknya masih tertahan: lebih kuat di kalangan yang memimpin daripada di kalangan jemaat, lebih mudah dipahami sebagai tugas rohani yang tinggi, dan lebih sering bergerak di antara orang-orang yang sudah dekat. Karena itu, realita ini tidak cukup dibaca sebagai soal jemaat kurang taat atau kurang mau bergerak, melainkan sebagai bagian dari kondisi pemuridan gereja hari ini.

Catatan data

¹ Survei Memuridkan dan Amanat Agung (2019) — survei ini melibatkan 5.984 responden yang terdiri dari gembala, majelis, dan anggota jemaat yang tersebar di 14 kota besar.

Bagikan artikel ini